Thursday, June 12, 2008

Karena Bicara Itu Gampang

Beberapa orang temen gw dikampus dulunya aktif di SMA. Beberapa ada yang anak OSIS. Di kampus, orang-orang itu tidak gw kenal sebagai orang yang aktif, dalam arti sempit ikut organisasi resmi dan kepanitiaan kampus, maupun dalam arti luas berperan dalam pembentukan suasana kebersamaan yang ceria, berbaur, berkomunitas, berdiskusi, jadi kakak asuh, atau lainnya.

Posisi mereka sekarang adalah pengamat. Mereka melihat apa yang rusak dalam lingkungan organisasi kampus, mereka melihat sampah-sampah dalam kegiatan kampus. Posisi mereka sekarang sangat terbatas. Mereka tidak membetulkan apa yang rusak, mereka tidak membereskan sampah berserakan. Mereka sebatas melihat -> Mecerna -> berkata : seharusnya tidak begini, saya ingin begitu.

Lalu sedikit orang yang ‘ngerasa diteriakin’ berusaha benerin kerusakan, mungutin sampah. Tapi mereka ga tau gimana benerin yang bener, kemana buang sampah yang ngga nyampah lagi... karena ketika mereka berbalik untuk bertanya mereka hanya melihat kerumunan yang melihat dari jauh, tidak tahu siapa yang tadi berteriak (atau berbisik).

Banyak pihak menyalahkan sesuatu yang tidak benar-benar berwujud, intangible. Sesuatu yang melesukan keinginan mereka bergerak dan membuat muak, sesuatu yang membuat sedikit orang yang ‘ngerasa diteriakin’ jadi seragam : kaku kurang kreatif gegabah bisa juga bebal. Sesuatu berbentuk sistem, bisa juga atmosfer organisasi, ada juga yang bilang campur tangan yang terlalu banyak dari suatu lembaga.

Orang yang dulunya aktif lalu menjadi pasif (apatis) akan lebih berbahaya daripada orang yang pasif darisananya. Karena lidah mereka bisa sangat tajam dengan serangan yang bertubi, yang membuat lawannya kehabisan kata. Mereka juga berbahaya karena banyak kepala yang mengharapkannya, tapi mereka tidak bergerak.

Gw rasa bergabung membentuk organisasi tandingan atau mungkin yang lebih baik, organisasi perealisasi aspirasi, jauh lebih berguna daripada menyalahkan satu pihak namun dalam waktu bersamaan masih tergantung padanya.

Pembuktian lebih baik daripada gerutuan.

1 comment:

Gabriella Alodia said...

komunikasi. kunci dari segala sesuatu. dan gw lagi sangat amat kurang komunikasi. dan gw menjadi kacau maracau. halah