Thursday, June 26, 2008

CURIOSITY KILL THE CAT

Gw pengen nonton film MAY, tapi ga kedapetan karena keburu ditarik dari 21, mungkin kurang laku. Padahal kayaknya itu film bagus karena ada unsur sejarah dan ilmu sosialnya yang menimpa etnis Tionghoa waktu Tragedi Mei 98.

Kata Gaby, film2 bagus (mungkin maksudnya yang membuat penontonnya lebih berfikir dan memberi wawasan baru) itu cepet ilangnya dari 21. Kalo diliat2, iya juga sih, abis penontonnya sedikit. Kemaren aja waktu gw nonton film FIKSI yang ikut Pusan International Film Festival, penontonnya cuma belasan orang. Padahal hari Jumat sore lho itu! Disaat liburnya para pelajar pula.

Tapi yang pengen diceritain sebenernya bukan film vs selera konsumen di Indonesia, hehe... jadi ceritanya saat itu, gw ketemu seseorang yang gw kenal yang juga mahasiswa perfilman. Gw yang menaruh minat di ‘dunia seperti itu’ membuka pembicaraan dengan mengeluhkan keinginan menonton film MAY yang ngga kesampaian.

Gw : “Men (kata ganti), lo udah nonton film May belom? Gw pengen nonton tapi keburu ga ada di bioskop.”

Men : “Ngga tau gw.”

Gw : “Kata temen gw filmnya bagus!” (teringat kata Amy dan Gaby)

Men : “Bagus menurut siapa?”

Gw diem... Bagus menurut siapa? Ngga mungkin gw bilang bagus menurut Amy sama Gaby karena tidak menunjukkan kejelasan segmen penonton. Akhirnya gw diem dan malas melanjutkan obrolan. Setelah itu gw jadi menyesal kenapa ga ngomong “Bagus menurut orang yang udah nonton film jauh lebih banyak dari lo.” (pikiran jahat, ngga boleh diturutin)

Dengan menyesali sikapnya yang tidak bisa menjadi duta perfilman yang seharusnya memasyarakatkan film, gw merenung apa alasan dia berbuat seperti itu. Apakah karena sudah merasa lebih tahu dan terganggu dengan pernyataan tidak ilmiah dari orang yang ngga punya latar belakang film memadai ini? Atau sudah bosan dengan pertanyaan yang kurang variatif mengenai bidangnya sama kayak gw menghadapi pertanyaan mengenai akuntansi yang tidak juga gw kuasai? Atau juga karena capek menghadapi gw yang selama ini menyampaikan omong kosong tentang berbagai hal waktu ngobrol?

Mungkin hipotesis terakhir ada benarnya juga. Jadi, selama ini gw memang merasa sangat sotoy waktu ngobrol sama si Men itu. Salah sih, tapi sebenernya gw pengen obrolan lebih lancar dan siapa tau ngasih ‘sesuatu’ buat orang itu. Lancarnya obrolan kan lumayan siapa tau gw dapet jawaban mengenai hal2 yang selama ini jadi pertanyaan, siapa tau dapet informasi mengenai dunia perfilman. Siapa tau kan? Memancing informasi dengan informasi.

Pernah baca dimana gitu istilah “Curiosity kill the cat” yang maksudnya kucing-kucing mati karena keingintahuannya. Ngerti kan maksudnya? Hehe... kan kucing suka main2 tuh, kejar sana-kejar sini, cakar ini itu, nomprok apa aja. Nah, bisa aja dia kelindes atau apa waktu lagi main2 sama sesuatu. Gitu contohnya...

Mungkin itu juga menimpa gw. Karena pengen tau aja, gw jadi melahap informasi yang mungkin belom valid, nanya-nanya mengganggu, dan mengusik rahasia karena gak peka. Dan rasa ingin tahu membahayakan pemiliknya.


-24/06/08-

2 comments:

gesti said...

coba baca cerita bunny,nyaw2,and my bros di www.ayupratikto.wordpress.com dan lo bakal tau apa yang membunuh seekor kucing, it isn't curiousity.

Gabriella Alodia said...

lam maap lam. jujur gw ga ngerti tulisan lo yg inih :(