Wednesday, July 9, 2008

Subtitusi Kemewahan

Ketika berjalan-jalan menikmati maupun mengamati kemewahan, gw membuat komitmen yang sebenernya gw sendiri ga yakin akankah bisa dijalankan. Gw kepikiran untuk melakukan subtitusi kemewahan dengan hal yang lebih sederhana dengan menyumbangkan selisih harganya untuk orang yang lebih membutuhkan untuk hidup.

Misalnya suatu saat ketika gw sudah berduit dan akan ngopi2 di coffee shop untuk kesenangan sendiri, gw bakal menggantinya dengan ngopi di warung terdekat atau malah bikin sendiri. Selisih dari uang yang akan dikeluarkan untuk ngopi mewah (keinginan) dengan ngopi sederhana (kenyataan) akan disumbangkan untuk orang yang membutuhkan.

Rumusnya: Harga Keinginan – Harga Kenyataan = Sumbangan

Dengan begitu, gw memang tidak jadi mendapat service yang lebih. Tapi yang pasti akan menajamkan kepekaan dan hidup sederhana. “mengeluarkan sejumlah uang mendapatkan keinginan untuk mengalami kenyataan dengan memberikan orang lain bantuan.”

Sampe sekarang gw masih membayangkan dan mengembangkan gagasan itu. Tapi, ga yakin deh akan terlaksana. Masalahnya baru beberapa tahun lagi gw mungkin punya uang berlebih untuk kemewahan, itu juga kalo kuliah berjalan lancar. Jadi, mungkin aja udah lupa beginian kan. Lalu keinginan gw seperti orang-orang umumnya: tidak pernah terpuaskan. Hhh,,, ada yang mau mencoba dan membuktikan duluan?

2 comments:

Gabriella Alodia said...

gw juga pernah berpikir ingin jadi orang yang seperti itu. hanya memakai seperberapaa dari penghasilan, sisanya buat 'orang lain'.. tapi setelah (sedikit) dewasa, gw sadar bahwa uang sebenernya banyak di indonesia! yang kurang di sini adalah lapangan pekerjaan.. iya ngga iya ngga? jadi mendingan ntar kalo lo udah punya modal lo bikin usaha apaa kek gitu yang bisa membuat suatu lapangan pekerjaan baru.. dan jadilah 'bos' yang baik dan murah senyum.. hehehe *sotoy lo gab sotoy lo gab!

raisa said...

ilaaaaaammm..
kan udah pernah dilakukan secara massal di dunia. sosialisme?