Wednesday, July 9, 2008

Pendaftaran

Jumat itu ada yang membangunkan tidur malasku lebih pagi. Tentu saja bukan subyeknya, karena subyeknya pasti Mama. Tapi obyeknya: aku diminta bersiap-siap mengantar Adikku mendaftar ujian masuk kampus almamaterku. Aku malas sekali, karena ini hari terakhir dan banyak persyaratan yang belum dilengkapi. Tapi akan sejahat apakah hatiku bila membiarkan rasa penyesalan dan penasaran yang akan menggerayangi Mama dan Adikku bila harus mengundur pendaftaran tahun depan. Malah mungkin akan berakibat dendam.

Alhamdulillah nilainya cukup. Berita ini membahagiakan diriku, menyadari saudara sedarahku mengalami juga mendaftar di kampus harapan beberapa orang. Bahwa Ia mampu memenuhi persyaratan pertama.

Hari itu juga aku tidak melakukan kebiasaan Jumat saat liburan: pergi dari rumah setelah Sholat Jum’at. Tidak berat sih, tapi memang malas. Demi memenuhi keinginan Mana, Adik, dan tentu saja Aku. Langkah pertama pendaftaran, yaitu pembayaran di bank, aku sudah menemukan orang cerdik yang memanfaatkan kekosongan peraturan. Mengisi formulir setoran dalam antrian, sementara yang lainnya mengisi di meja-meja yang disediakan dan mengantri setelah selesai. Bagi beberapa orang terasa tidak adil, tapi tidak bisa disalahkan. Karena salah berarti melanggar aturan.

Prosedur demi prosedur dilewati, demikian juga bujukan orang yang memanfaatkan ketidaktahuan pendaftar. Menyebarkan kabar menyesatkan, lalu menawarkan dagangan.

Kini pendaftaran sudah selesai, menyisakan kenangan perasaan tertekan mengetahui ada siswa yang tidak diizinkan mendaftar karena tidak melengkapi persyaratan kelegalan, padahal itu hari terakhir. Lalu timbul tantangan dan rintangan: membantu adikku dua minggu kedepan mempersiapkan diri menghadapi ujian.

1 comment:

Gabriella Alodia said...

smangat laaam! jadilah kakak yang baik :)